Berfikir Sistem Dalam Kerja Kolaborasi Komunitas Kreatif Kota

Berfikir Sistem

Berbicara tentang kompleksitas perkotaan, kita akan selalu bersinggungan dengan banyaknya kompenen yang terdapat di dalam sebuah kota. Perilaku sosial dari masing-masing individu jelas akan sangat mempengaruhi bangaimana bentuk kompleksitas yang muncul. Istilah efek dominokerap kali muncul saat kita coba memandang akar sebuah permasalahan, khususnya persoalan urban yang muncul di perkotaan. Isu lingkungan, kebijakan tata ruang, kemanusiaan, hingga relasi sosial antar individu akan memberikan warna tersendiri bagi sebuah kota. Sudah sepantasnya jika kita memandang sebuah kota tidak dari satu sudut pandang. Cara pandang yang beragam akan memudahkan setiap individu didalamnya dalam memecahkan setiap pesoalan yang muncul.

Penyebab utama terjadinya sebuah permasalahan adalah hubungan konektivitas yang semakin meningkat di setiap komponen. Ketika jumlah komponen lebih dari 3, hubungan yang terjadi telah melebihi dari jumlah komponennya (Flood and Carson, 1993), dengan kata lain semakin banyak komponen akan meningkatkan hubungan dan semakin tinggi hubungan akan semakin kompleks permasalahan secara eksponensial.

“Masalah-masalah yang timbul di masyarakat mulai dari isu lingkungan, sosial, teknologi, kebudayaan dan lain sebagainya berakar dari ketidak-mampuan kita untuk memandang fenomena secara tepat dan melihat situasi secara utuh”. 

Kutipan di atas merupakan bentuk pemahaman cara berfikir holistik yang diungkapkan oleh Andy Sutioso[1]dalam sebuah seminar pembelajaran holistik. Berfikir holistik atau yang kerap di sebut dengan system thinking (berfikir sistem)  adalah cara pandang atau pola pikir yang memandang sebuah masalah yang saling berkaitan satu sama lain. Dengan kata lain, cara berfikir sistem banyak digunakan oleh khalayak luas sebagai cara untuk memecahkan sebuah masalah.

Masing-masing disiplin ilmu telah memecah persoalan-persoalan dalam lingkup kota menjadi bagian-bagian kecil, misalnya berdasarkan sektor. Masalah ekonomi dipecahkan oleh ekonom, masalah politik dipecahkan oleh politikus. Masalah lingkungan dipecahkan oleh para ahli Ekologi. Pendekatan ini disebut pendekatan reduksionis. Padahal semua persoalan ini bukanlah persoalan yang berbeda-beda, melainkan hanyalah sisi-sisi yang berbeda dari bangunan yang sama. Persoalan ini berhubungan satu dengan yang lain dalam satu jaring-jaring permasalahan yang kompleks. Apa yang diputuskan oleh sekelompok elite di rapat kerja pemerintah kota akan berpengaruh terhadap kehidupan para pedagang di halaman kantor pemerintahan kota dan begitupun sebaliknya sebaliknya. Keputusan untuk berhenti berdagang yang dilakukan oleh salah seorang pedagang di pinggiran kota akan berpengaruh pada persediaan bahan-bahan pokok di pasar tradisional.

Dibutuhkan sebuah paradigma baru mengenai cara warga kota memandang persolan dalam konteks perkotaan yang akan menentukan langkah-langkah penyelesaian yang akan diambil. Hal itu dapat terjadi jika segenap warga kota bekerja-sama ke arah perubahan itu.

Apakah ada cara yang efektif?

Ilmu pengetahuan modern telah mencapai kemajuannya dengan memecah-mecah sistem menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan mempelajari secara mendalam masing-masing bagian itu. Pendekatan ini tidak berlaku untuk sistem, sebuah sistem adalah lebih daripada bila seluruh komponennya dijumlahkan. Dan sistem akan bekerja bila seluruh komponennya terletak dan terhubung pada tempatnya. Sistem adalah sekumpulan elemen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dan membentuk fungsi tertentu. Sistem dikelompokkan menjadi dua yaitu sistem statis yang tidak berubah terhadap waktu dan sistem dinamis yang selalu berubah dengan berubahnya waktu. Cara berpikir sistem adalah salah satu pendekatan yang diperlukan agar warga kota dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi dapat dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem secara efektif.

Di kehidupan sehari-hari, manusia tidak jarang melupakan gambaran besar dari apa yang sedang di lakukan, tidak heran jika sebaiknya seseorang berhenti sejenak untuk mengurusi masalah yang detail untuk melihat keseluruhan permasalahan secara makro. Sehingga istilah berfikir sistem dapat dikatakan sebagai forest thinking sebagai lawan tree thingkingyang detail (Richmond, 2000). Kemampuan secara dinamis memandang sebuah masalah juga dapat di ibaratkan sebagai helicopter view, dimana ketinggian helikopter dapat menambah atau mengurangi horizon pandangan seseorang. Tidak jarang sebuah permasalahan dapat dengan mudah di pecahkan dengan cara pandang secara menyeluruh, namun ada beberapa hal yang juga perlu di kaji secara men-detail. Hal ini yang membentuk kompleksitas dari perkotaan, sehingga keragaman sudut pandang dari setiap elemen yang ada di dalamnya menjadi penting, terutama jika sebuah kota ingin memunculkan warnanya sendiri. Namun jauh sebelum itu, perlu ada perubahan cara berfikir individu yang terlibat didalamnya. Beberapa faktor yang terjadi di lingkup perkotaan, saat ini dirasa kurang tepat jika di selesaikan hanya dengan pendekatan analisis, lebih jauh, pendekatan sintesis yang berorientasi pada proses dan pengkombinasian ide untuk memahami pola yang terjadi dapat menjadi salah satu pertimbangan setiap individu atau kelompok yang terdapat di dalam sebuah kota.

Kota Kreatif: Sloganatau Identitas Elemen Didalamnya

Tahun 2008, Kota Bandung mendeklarasikan dirinya sebagai kota kreatif. Hal ini juga bersamaan dengan terbentuknya Bandung Creative City Forum(BCCF). Sebuah forum komunikasi lintas disiplin ilmu yang bertujuan sebagai wadah komunitas kreatif untuk bekerja kolaborasi dalam membangun indentitas kota. Walaupun di tahun 2000 awal, kota Bandung sudah mulai banyak memiliki kegiatan kolaborasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk komunitas kreatif. Sebut saja Dago Festival dan Braga Festival, dua perhelatan akbar yang memang menjadi primadona bagi kebanyakan komunitas kreatif di kota Bandung pada era 2000-an. Kegiatan yang di inisiasi oleh Republik Entertainment ini memang banyak melibatkan komunitas kreatif di kota Bandung. Dari mulai komunitas pelukis Jelekong hingga musisi jalanan yang di kelola oleh Rumah Musik Hari Roesli. Berbeda dengan kota Kembang, Yogyakarta juga memiliki warna tersendiri jika dikaitkan dengan pergerakan komunitas kreatif. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) mungkin bisa dikatakan kegiatan skala kota yang masih eksis hingga saat ini. Festival kota yang menggabungkan banyak elemen masyarakat ini melahirkan banyak kegiatan seni budaya besar yang sudah secara mandiri mengelola kegiatannya secara terpisah hingga saat ini. Sebut saja pameran seni rupa Art Jog, pameran seni rupa yang menjadi salah satu kegiatan pameran terbesar di Indonesia saat ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah bentuk kegiatan skala kota menjadi titik tolak keberhasilan elemen didalamnya untuk memunculkan sisi kreatif dan mengekspos ke publik yang lebih luas? Apakah ini menjadi target keberhasilan bagi setiap komunitas kreatif yang terlibat didalamnya?

Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab secara lisan maupun tulisan, namun kita perlu melihat lebih jauh persoalan substansi yang menjadi penopang kegiatan tersebut. Persoalan sebuah kota mendeklarasikan dirinya sebagai kota kreatif dapat dilihat dari cara kota tersebut memperbaiki lingkungan urbandan menciptakan atmosfir kota yang inspiratif. Saat ini, pengembangan potensi ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu pemicu kegiatan kreatif. Dalam proses pengembangan bentuk ekonomi kreatif, partisipasi komunitas yang terlibat di dalamnya dapat menentukan kebijakan publik serta tata kelola lingkungan hidup yang lebih baik. Dari sisi ini kita dapat menilai sebuah kota, apakah kota tersebut sekedar menjadi wadah atau lebih jauh kota tersebut menjadi pemicu kegiatan kreatif.

Wacana kota kreatif juga perlu didukung dengan pemeliharaan creative class yang terlibat didalamnya. Golongan atau individu kreatif ini memiliki peran dalam menemukan solusi kreatif dalam memecahkan persoalan sehari-hari dalam kehidupan perkotaan. Memelihara disini memiliki arti melakukan pendataan, memperhatikan perkembangan, memberikan dorongan serta mengajak berpartisapasi dalam berbagai agenda kota. Kita ambil contoh ketika pasca letusan gunung Merapi di Yogyakarta tahun 2010. Pemerintah kota Yogyakarta melakukan himbauan supaya setiap elemen masyarakat melakukan perbaikan daerah aliran sungan yang terkena dampak lahar dingin. Proses penyadaran lingkungan ini menjadi lebih menarik ketika banyak komunitas street art ikut memberikan kontribusinya dengan menghias tanggul-tanggul penahan lahar dingin dengan mural. Dengan aktivitas bersama tersebut, setiap individu dapat berinteraksi dan saling bertukar informasi serta ide untuk menyelesaikan masalah yang terjadi secara bersama. 

Dari pemeliharaan creative class, baru kita menuju pengembangan lingkungan kreatif. Lingkungan yang kondusif mutlak di butuhkan guna mengembangkan ide-ide kreatif dan inovatif. Lingkungan yang inspiratif dapat mempengaruhi pengalaman setiap individu dan golongan dalam proses penemuan ide kreatifnya. Disinilah peran pemerintah kota menjadi patron bagi setiap komunitas kreatif yang ada di dalamnya. Idealnya memang di tingkat pemerintah kota-lah komunitas kreatif tersebut bernaung. Peran penting pemerintah kota dalam hal ini dapat berupa upaya merubah rintangan menjadi kreatifitas, menciptakan lebih banyak individu kreatif, menggunakan katalisator berupa ruang kreatif baik fisik maupun non-fisik, mengembangkan kosmopolitanisme dan lokalisme kota sebagai identitas kerja kreatif yang dilakukan, dan yang terakhir adalah manajemen birokrasi yang produktif dan efektif demi mendukung penyediaan layanan dan infrastruktur komunitas kreatif dengan baik, dengan kata lain kolaborasi antara pemerintah kota dan partisipasi masyarakat guna mewujudkan sebuah kota menjadi kota kreatif tidak hanya menggunakan sebuah slogan, melainkan aksi yang lebih nyata dengan kerja kolaborasi.

Perkembangan kota kreatif tidak lepas dari banyaknya potensi keragaman budaya, kesenian, sumber daya manusia yang dapat mendorong perluasan wawasan kreatif. Perlu adanya pengembangan strategi perencanaan fisik kota dan pengembangan individu serta golongan kreatif (creative class). Dengan demikian, komunitas kreatif dapat menjadi salah satu bagian dari tulang punggung yang menopang industri berbasis ekonomi kreatif. 

Pustaka Acuan

Flood, R. L. and E. R. Carson. 1993. Dealing with Complexity: An Introduction to the Theory

and Application of Systems Science. New York: Plenum Press.

Richmond, B. (2000). The “Thinking” in Systems Thinking. Waltham, MA, Pegasus

Communications.


[1]Andy Sutioso ada penggagas, pendiri dan kepala sekolah dari Rumah Belajar Semi Palar, Bandung. Rumah belajar dengan jenjang PG, TK, SD, SMP dan Kelompok Belajar setingkat SMA ini menggunakan sistem pembelajaran holistik dalam proses belajar mengajarnya. Tautan lebih lengkap dapat di lihat di https://semipalar.sch.id



Comments are closed.