Seni dan Media Massa

Media massa pada perkembangannya telah banyak memberikan masukan pada perkembangan dunia seni rupa, khususnya pada saat ini, dimana seni rupa telah memasuki masa kontemporer. Dalam perkembangan seni rupa kontemporer berbagai disiplin ilmu dapat dikaitkan dengan kajian kesenirupaan, hal ini memungkinkan serta membukan peluang yang sangat besar bagi setiap pelaku kesenirupaan untuk melakukan kegiatannya secara multi-disiplin.

Praktik penulisan seni rupa dalam media massa merupakan salah satu faktor penting dalam mendongkrak kemajuan kesenirupaan hingga saat ini. Pernyataan tersebut dapat dilihat dari banyaknya karya seni yang dapat memiliki nilai estetis lebih setelah ada kritik yang ditulis dalam media massa. Hal ini memperkuat posisi para penulis seni untuk terus bereksplorasi dengan tulisannya dalam media massa.

Keterkaitan antara seni rupa dengan media massa dapat dikatakan seperti hubungan yang bipolar[1]dengan kata lain kedua praktik ini memiliki banyak sekali perbedaan, namun pada satu sisi kedua praktik ini dapat saling mendukung satu sama lain. Penggunaan media massa dalam menyampaikan informasi, tentu saja akan sangat mempengaruhi prilaku masyarakat pengguna media tersebut.

Dalam seni rupa, media dapat digunakan sebagai jembatan dalam penyampaian dan penyerapan gagasan kekaryaan. Maka dari itu pemberitaan sebuah isu dapat sangat mempengaruhi setiap karya yang dihasilkan oleh seorang seniman. Seorang Marshall McLuhan, peneliti yang berasal dari Kanada mengatakan, “New (Communication) environments reset our sensory threshold. Those, in turn, alter our outlook and expectations.”[2] Dia mendiskusikan pula persoalan yang berkaitan dengan seni, “Any artistic endeavor includes the preparing of an environment for human attention. A poem or a painting is in every sense a teaching machine for the training of perception and judgement.”[3] Hingga Ia menyatakan bahwa seorang seniman itu “the persons who invites the means to bridges between biological inheritance and the environments created by technological innovation,”[4]  hal tersebut menyatakan bahwa seorang seniman dapat menerjemahkan dunia sebagai bagian dari teknologi baru dari kemampuan menggunakan media, salah satunya pengalikasian media massa sebagai perangkat pendukung kekaryaannya.

Saat ini setiap orang dapat dengan bebas memilih dan mengembangkan setiap informasi yang dibutuhkan, hal ini pada dasarnya terbentuk karena keberagaman dari kepentingan setiap orang. Walaupun pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang hanya melihat sisi visual dari sebuah karya tanpa memperdulikan esensi yang terdapat di dalamnya.

Praktik penulisan seni rupa yang marak hingga saat ini sudah tidak lagi berhenti dengan pemanfaatan media massa yang konvensional, hadirnya media baru membuat praktik penulisan seni rupa menjadi semakin beragam. Pertanyaannya adalah apakan penulisan tersebut sudah sesuai? Dan apakah esensi dari karya atau kegiatan kesenirupaan yang seharusnya disampaikan, tersampaikan? Lalu, bagaimana seni rupa dikabarkan dewasa ini?

Lahirnya Surat Ijin Usaha Penerbitan (SIUP) dan beberapa contoh kasus pembreidelan sejumlah media massa sepanjang kekuasaan orde baru telah menjadi tanda, bagaimana pengelolaan informasi yang terjadi di negara ini bersifat tunggal dan searah. Pengalaman pada awal masa orde lama telah berhasil menanamkan ingatan yang dianggap “berbahaya” (karena pergerakan seni rupa dianggap mengganggu stabilitas nasional), oleh karena itu perkembangannya selalu diawasi dan dikontrol. Semasa kekuasaan orde lama hingga orde baru, praktik seni rupa banyak dikaitkan sebagai bagian dari dinamika sosial politik masyarakat. Dengan label “ekstrim kiri”, praktik seni rua menjadi sesuatu yang dianggap perlu untuk dikontrol dan diawasi pada saat itu.

Pada masa sesudahnya (paska krisis 1998), praktik seni rupa justru memperkuat posisinya ketika berada dalam konteks pasar global. Kelas elit di Indonesia telah menjadi pemain investasi yang cukup diperhitungkan di pasar seni rupa dunia. Nilai tanda pada praktik seni rupa Indonesia-pun telah menciptakan jaringan internasional-nya sendiri melalui wacana sosial politik.

Pada tahun 2004 sebuah majalah seni rupa diluncurkan, berbeda dengan pembahasan mengenai seni rupa dalam media massa lainnya pada saat itu, majalah ini memang sengaja dirancang untuk membahas semua kajian yang ada dalam dunia kesenirupaan. Dengan memakai nama kata ‘visual’ (untuk mengganti kata rupa) majalah ini telah berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan terminologi praktik seni rupa yang telah meluas.

Bangunan seni rupa Indonesia makin marak. Pilar-pilarnya tumbuh kian kokoh. Tak hanya perupanya yang terus bertambah, dengan penjelajahan-penjelajahan baru. Kolektornya pun juga meningkat jumlahnya, dan kian kritis. Begitu pula galeri, museum-museum pribadi, serta ara penulis seni rupa, pengamat, kritikus, dan kurator.[5]

 

Medan seni rupa Indonesia paska reformasi justru talah semakin jelas menunjukan gerak roda pasarnya, semakin banyak agen-agen yang bekerja di dalamnya, semakin beragam pula atmosfer sosialnya.

Posisi majalah dan surat kabar sebagai media massa dirasakan cukup strategis, melihat sasaran pembacanya yang massal sehingga praktik seni rupa yang dikabarkan dapat terkabarkan secara umum dan meluas. Pada akhirnya majalah dan surat kabar sebagai media massa menjadi media promosi sekaligus ukuran keberhasilan bagi praktik seni rupa. dalam situasi media massa sebagai pengukur nilai-nilai tanda dalam pasar seni rupa, pengerjaan konten atau isi berita menjadi tidak begitu diperhatikan lagi. Seharusnya ketermuatan informasi yang menjadi berita di media massa-lah yang harus dikedepankan. Meningkatnya keinginan serta ruang iklan menjadi target utama media massa, sebab dengan begitu majalah ataupun surat kabar (media massa) tersebut akan semakin tinggi nilai “gengsi” dan kuaanya untuk menentukan dan memuat berita apapun. Termasuk berita dari praktik seni rupa, apapun konten beritanya.

Aminudin TH Siregar[6] mengatakan bahwa seni rupa modern Indonesia tercetak dalam institusi media massa seperti surat kabar dan majalah sejak era tahun 1930-an, selain menampilkan artikel-artikel, pada saat itu media massa rajin menampilkan karya-karya dari seniman yang sulit kita temukan di museum-museum negara.[7] Sehingga dapat dikatakan bahwa sistem yang ada dalam pengelolaan data yang dilakukan oleh media massa dapat membantu atau bahkan menggantikan kerja museum sebagai pengumpul data.

Informasi yang dapat diakses melalui media massa terkait dengan karya seni rupa menjadi bahan penunjang penting bagi beberapa kalangan elit, sebut saja seorang kolektor yang sedang berburu karya seni rupa, terlepas itu untuk kepentingan komersil atau hanya sebagai koleksi, namun sang-kolektor tersebut perlu membuat sebuah keputusan saat memilih sebuah karya. Keputusan tersebut dapat diambil dengan landasan rasa “senang” dan “cocok” semata, tapi disisi lain seseorang dapat menentukan kecocokan serta rasa senang akan sebuah karya dapat berdasarkan apa yang Ia jadikan referensi, dan media massa seharusnya dapat menjadi referensi yang cukup merepresentasikan dalam hal ini.

Dalam perspektif ini, pengelolaan informasi menjadi hal seharusnya dikedepankan. Sebagai sebuah institusi pengelola informasi, sudah sepantasnya kalau media massa dapat menjadi sumber yang secara tidak langsung memenuhi kebutuhan akan informasi yang utuh. Namun dalam kenyataannya banyak sekali kepentingan yang terdapat dibalik sebuah perusahaan media massa, informasi seni rupa yang diberitakan sesungguhnya bersifat selektif, politis dan seringkali mengabaikan muatan informasi yang sesungguhnya.[8]

Hal tersebut membuat media baru seperti website, blog menjadi pilihan alternatif bagi para pelaku baik individu atau komunitas membuat pengelolaan informasi dengan sendirinya. Ditambah maraknya penggunaan social network yang lebih mempermudah interaksi antara satu individu dengan individu lainnya bahkan dalam komunitas. Hingga pada akhirnya, perkembangan media baru tersebut mematahkan anggapan yang menyatakan hingga saat ini pembaca atau audience merupakan pihak pasif. anggapan ini sesungguhnya lahir dari pemikiran ketika majalah dan surat kabar semakin menjadi industri yang semakin mapan dan dimiliki oleh para investor konglomerasi media.

Maraknya website komunitas atau situs organisasi di internet, blog pribadi, jejaring sosial, dan bahkan semacam kantor berita online, baik yang dikelola secara perorangan maupun organisasi yang lebih mapan, telah memungkinkan bagi siapapun juga untuk meraih dan mengelola informasinya sendiri. seringkali ditemui, berita dari surat kabar dan majalah, apalagi berita dari sebuah web-online, dan lain-lainnya, dengan cepat berpindah berada di blog-blog pribadi mauun alamat jejaring sosial dengan menggunakan fasilitas link dan tagline. Berita tersebut dapat diunduh dari berbagai lokasi meskipun mereka berasal dari sumber yang sama. Fenomena semacam ini di satu sisi menunjukan bagaimana tindakan repetisi dan reproduksi informasi berlangsung begitu cepat dan massal, tetapi di sisi lain hal ini menunjukan bagaimana seseorang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk mengelola dan melakukan re-klarifikasi sendiri terhadap suatu berita.

[1] Bipolar atau dua kutub yang berlawanan.

[2] Marshall McLuhan, Essential McLuhan, (New York Bassic Books, 1995) P-349.

[3] Marshall McLuhan, Essential McLuhan, (New York Bassic Books, 1995) P-339.

[4] McLuhan P-379.

[5] “Surat dari Redaksi” dalam Visual Arts, Edisi Perdana Juni-Juli 2004. PT. Media Visual Arts, Jakarta, hal. 004. Lebih lanjut tulisan tersebut menyinggung soal kurang tergarap-nya media komunikasi. Hal ini dilihat dari banyaknya komunitas yang mulai memiliki media komunikasinya masing-masing pada saat itu, dan oleh karena itu, media komunikasi diangga perlu untuk mencapai kemajuan dalam praktik seni rupa.

[6] Aminudin TH Siregar adalah seorang kurator sekaligus pendiri ruang alternatif S14 di kota Bandung.

[7] Pernyataan Aminudin TH Siregar dan Enin Supriyanto dalam “Seni Rupa Modern Indonesia” yang tertulis pada Surat Vol.37, Juni 2010, Hal.6.

[8] Dalam konteks sekarang orang mulai mencari dan mengembangkan informasinya sendiri-sendiri, hal ini yang memicu penggunaan media baru sebagai alternatif untuk meraih dan mengelola informasinya sendiri. Surat Vol.37, Juni 2010, Hal. 12.



Comments are closed.