Catatan Akhir Pekan (Mar2017)

Diakui atau tidak, pers memiliki special privilege (hak-hak istimewa), maka tak jarang hak-hak istimewa ini dikesani bekerja paralel dengan kewenangan institusi lain. Satu contoh, pers bisa bertindak seperti polisi ketika muncul suatu kasus yang memerlukan penyelidikan. Bedanya, petugas polisi menuangkan hasil penyelidikannya dalam BAP (berita acara pemeriksaan) untuk dibaca atasan, kemudian diteruskan kepada jaksa atau hakim di pengadilan. Wartawan menuliskannya dalam kolom-kolom berita untuk dibaca publik. Bedanya lagi, polisi diberi pistol dan wartawan cukup bersenjatakan pulpen dan jolt note atau alat perekam, entah tape recorder atau kamera.

Special privilege pers tak hanya sebatas itu, tapi kadang menjangkau lebih jauh ke dalam kehidupan politik negara. Lintas sejarah memperlihatkan dengan jelas bagaimana insan pers sekelas Ida Tarbell mampu melahirkan opini baru tentang politik ekonomi perminyakan Amerika, segera setelah Ida Tarbell menyelidiki kiprah Standard Oil Company, milik keluarga terhormat John D. Rockefeller. Itu awal abad ke-20. Pada paruh kedua abad yang sama, Bob Woodward dan Carl Berstein dari Washington Post kembali mengingatkan special privilege pers itu ketika menyelidiki kecurangan politik Partai Republik hingga berbuntut jatuhnya Richard Nixon, politisi ulung cum presiden Amerika di tahun 1970-an. Baik kiprah Ida Tarbell maupun duet “Woodstein” dianggap ikut meletakkan setting budaya politik Amerika, seperti juga lembaga kongres atau lembaga-lembaga lain.

Dengan fungsi dan peran yang sedemikian besar itu, pers jelas tak hanya memerlukan pagar hukum, tapi juga pagar etika. Hukum, dengan daya special privilege yang sedemikian kokoh, bahkan sering tak bisa berbuat banyak terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan pers. Misalkan saja, bisakah hukum mengambil tindakan terhadap pers yang nyata-nyata mengeritik negara, atau bahkan mengecam kebijakan penguasa nomor satu. Di zaman raja-raja, ketika hak-hak politik sipil tak mendapat jaminan konstitusi secara layak, orang atau institusi yang mengeritik negara, bisa ditangkap, dihukum, malahan bisa dipancung dengan tuduhan tak setia kepada negara dan penguasa.

Kembali pada pembahasan utama mengenai peran media dalam memberitakan konflik, sebelum terlalu jauh, mari kita tinjau terlebih dahulu keterkaitan antara pengelolaan jurnalisme dalam menghadapi fakta-fakta. Proses jurnalisme diwujudkan melalui tahapan pilihan- pilihan teknis yang dilakukan oleh pengelola media dalam menghadapi fakta-fakta saat menyiapkan dan menyajikan berita, dan tahapan berikutnya sejauh mana obyektifitas dapat dijalankan dalam memproses fakta-fakta tersebut (McQuail, 1987).

Tulisan ini akan sedikit membahas mengenai bagaimana peran media massa dalam memeberitakan konflik. Dalam kerja sehari-hari, biasanya perhatian lebih banyak ditujukan terhadap kecenderungan dalam melakukan pilihan teknis atas fakta. Pilihan teknis ini diasumsikan untuk memenuhi kepentingan khalayak. Karenanya dalam orientasi pemberitaan, standar teknis yang berkaitan dengan berita menjadi perhatian utama.

Fungsi Sosial Konflik dan Peran Jurnalistik Media Massa

Konflik berasal dari kata kerja bahasa latin configere yang memiliki arti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau kelompok) dalam roses mencoba mencari tujuan-tujuan atau ambisi yang sulit untuk dituju. Secara terminology konflik merupakan sebuah perselisihan mengenai nilai-nilai atau tuntutan berkenaan dengan status, kuasa dan sumber-sumber kekayaan yang persediaannya tidak mencukupi, dimana pihak-pihak yang sedang berselisih tidak hanya bermaksud untuk memperoleh barangatau tujuan yang diinginkan, melainkan juga memojokan, merugikan, atau menghancurkan lawan mereka.[1]

Pada dasarnya media memiliki kepentingan pragmatis. Dua sisi kepentingan pragmatis khalayak secara sederhana dapat dilihat dari sisi pertama yaitu dorongan sosial, sebagai dasar untuk pegangan dalam memasuki kehidupan publik. Biasa disebut sebagai dorongan untuk memasuki dunia-luar (outer-world) dirinya, yang dibedakan dengan kepentingan atas sisi kedua yaitu dorongan psikhis yang hanya untuk memenuhi kepuasan dunia-dalam (inner-world).

Lalu mengapa konflik dipandang bermakna? Jika konflik merupakan suatu fakta yang berasal dari penggalan suatu proses sosial, maka perlu dilihat bagaimana sifat proses sosial tersebut. Konteks proses sosial sebagai latar bagi fakta konflik biasanya diabaikan. Padahal konflik hanya bermakna jika berada dalam ruang publik yang tenteram. Seperti halnya perang akan bermakna dalam ruang sosial yang damai.

Setelah berakhirnya rezim Orde Baru, ruang publik dipandang telah menyediakan kebebasan pers. Kebebasan pers (freedom of the press) berlandaskan prinsip demokrasi yang menjadi acuan nilai bersama (shared value) di ruang publik. Sebagaimana disebutkan, ruang publik dilihat dalam dimensi-dimensi politik, ekonomi dan kultural. Saat ini bagi pengelola media massa, ruang publik dilihat hanya dalam konteks ekonomi, sehingga merupakan pasar bebas. Inilah yang dimanfaatkan oleh investor yang meramaikan dunia penerbitan saat mi, dengan bermacam format produk, mulai dan media yang mengutamakan informasi sosial, sampai gosip tentang artis dan politisi, serta cerita- cerita jin dan hantu. Karenanya saat ini yang berlangsung berupa pers bebas (free press), belum kebebasan pers (press freedom), dengan kebanyakan perusahaan yang muncul untuk menjalankan proses komodifikasi media.

Berita sebagai Produk Jurnalistik

Sebuah berita berasal dari sebuah peristiwa yang juga adalah realtias, dan pada dasarnya setiap hari manusia pasti mengalami berbagai macam peristiwa dan realtias sosial. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak semua peristiwa dan realitas sosial dapat dijadikan atau digolongkan sebagai berita.

Secara teoritis ada banyak definisi mengenai berita, misalnya saja definisi yang diutarakan oleh Edward Jay Friedlander dkk. Seperti yang dikutip oleh Budyatna (2005:39), dikatakan bahwa berita adalah apa yang harus Anda ketahui yang tidak Anda ketahui, apa yang terjadi belakangan ini yang penting bagi Anda dalam kehidupan Anda sehari-hari, apa yang menarik bagi Anda, dan menggairahkan Anda untuk mengatakannya kepada orang lain. Berita adalah suatu peristiwa yang terjadi dan mempengaruhi hidup Anda, kejadian yang tidak disangka-sangka, dan tidak dapat diprediksi. Sedikit berbeda dengan pendapat yang mendefinisikan berita sebagai laporan yang tepat waktu mengenai fakta-fakta atau opini yang memiliki daya tarik, atau hal penting, atau kedua-duanya bagi masyarakat luas (Budyatna, 2005:39).[2]

Seorang jurnalis bertugas meliput dan mengumpulkan fakta, kemudian mengemasnya kedalam bentuk berita. Berita yang adalah produk dari jurnalisme ini pada dasarnya merupakan laporan tentang suatu peristiwa. Sehingga proses jurnalisme yang terjadi yaitu upaya menceritakan kembali suasana, keadaan, orang, benda, bahkan pendapat yang ada dalam suatu peristiwa, sebenarnya merupakan upaya untuk merekonstruksi realitas.

Realitas yang dikonstruksi kembali oleh pekerja media maupun institusi media inilah yang menjadi hal yang menarik dan ingin penulis teliti dalam obyek penelitian ini. Oleh karena itu perlu dicermati apakah sebuah realitas yang dijadikan berita itu sesuai dengan faktanya atau merupakan hasil rekonstruksi dari sebuah institusi media. Sehingga pemahaman mengenai perbedaan antara fakta, interpretasi, dan opini dari para pekerja media khususnya seorang wartawan, menjadi sangat penting.

Makna di Balik Isi Media

Kajian tentang isi media atau media making pada prinsipnya merupakan upaya untuk memahami realitas dan media pada waktu yang bersamaan dengan membangun konteks dari apa yang terkonstruksi melalui teks media. Dengan kata lain merupakan upaya untuk memahami makna (isi atau teks) yang dibuat oleh media. Isi media yang terdiri dari teks dan konteks ini merupakan basis media yang sekaligus menjadi indikator adanya kekuasaan lain. Tentunya kajian mengenai isi media ini sangat berpengaruh dalam memprediksi dampak-dampaknya terhadap khalayak.

Proses konstruksi makna yang direpresentasikan oleh teks media dipengaruhi oleh pola-pola yang ada dalam isi media itu sendiri. Pola-pola yang muncul dalam isi media (siapa yang kita lihat di media, apa karakteristik personal mereka, berasal dari sistem sosial mana, perilaku apa yang mereka perlihatkan, dan sebagainya) inilah yang akan dinilai dalam menganalisis isi atau teks media.

Sebagai produk dari sebuah industri media massa, teks bukanlah lagi hanya sebuah tulisan atau kata saja. Teks media (pesan, informasi, atau berita) pada dasarnya dan secara mutlak terkait erat dengan praktek sosial, proses institusional, aktivitas politik dan ekonomi. Dalam hal ini makna dari teks tersebut tidak dapat dipandang berdiri sendiri dari pengaruh dan kinerja kultur dimana teks itu muncul. Oleh karena itu teks yang disampaikan oleh media pada dasarnya tidak akan lepas dari konteksnya.

Teks dan konteks dalam suatu berita media massa memang merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Konteks yang dimaksud disini meliputi semua situasi dan hal yang berada diluar teks dan mempengaruhi pola pemakaian bahasa (seperti partisipan dalam bahasa), situasi dimana teks tersebut diproduksi, fungsi yang dimaksudkan dari representasi teks, dan sebagainya.

Konteks mengacu pada fakta bahwa makna dalam teks berita diciptakan tidak hanya dalam aktivitas yang secara tradisonal dianggap memproduksi makna (misalnya teks lisan tertulis, audiovisual) tapi juga dalam proses penerimaan teks. Sehingga dapat dikatakan adanya prinsip interaksi dengan teks.

Seseorang yang membaca suatu teks berita sebenarnya tidak menemukan makna dalam teks, sebab yang ditemukan dan dihadapi secara langsung adalah pesan dalam teks. Sedangkan makna dari teks tersebut akan diproduksi lewat proses yang aktif dan dinamis, baik dari sisi pembuat teks maupun khalayak pembacanya. Kemudian pembaca dan teks itu sendiri secara bersama-sama memproduksi makna tertentu (proses pemaknaan). Dalam proses ini seseorang akan ditempatkan sebagai satu bagian dari hubungannya dengan sistem tata nilai yang lebih besar, yaitu lingkungan masyarakat tempat ia hidup. Pada titik inilah ideologi media ‘si pembuat teks’ mulai bekerja.

 

Ideologi Industri Media Massa

Media dalam menjalankan fungsinya sebagai agen berita yang paling dipercaya publik untuk mendapatkan informasi, ternyata mampu melakukan politik pemaknaan. Sehingga pada akhirnya media bukan hanya menentukan realitas macam apa yang akan mengemuka, namun juga siapa yang layak dan tidak layak masuk menjadi bagian dari realitas tersebut. Media menjadi sebuah kontrol yang mampu mempengaruhi bahkan mengatur isi pikiran dan keyakinan-keyakinan masyarakat iu sendiri.[3]

Realitas yang harus dipikirkan oleh masyarakat ini pada umumnya lebih dikenal sebagai sebuah berita. Para pekerja media dengan susah payah membentuk atau memformat ulang realitas yang terjadi kedalam sebuah berita yang dianggap lebih baik dan aman untuk dikonsumsi pembacanya. Tugas utama seorang jurnalis adalah menceritakan kembali hasil reportasenya kepada khalayak. Mereka menyusun fakta yang sudah didapatnya ke dalam bentuk berita yang dimulai dari pengumpulan informasi, penulisan berita, dan penyuntingan berita oleh editor.

Seluruh isi media massa pada dasarnya merupakan realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). Wartawan dalam menyusun sebuah berita dibekali bermacam tuntutan jurnalisme antara lain tuntutan teknis, idealisme, dan pragmatisme. Tuntutan teknis antara lain kelengkapan berita (5W + 1H), struktur penulisan berita misalnya piramida terbalik untuk berita langsung dan benteng untuk berita ringan dan feature. Tuntutan idealisme menuntut pers untuk bersikap obyektif dan memperjuangkan kebenaran. Sedangkan tuntutan pragmatisme terkait erat dengan dinamika internal dan eksternal media massa.

Media sebagai sebuah industri tidak berdiri sendiri, ia berada di bawah bayang-bayang beberapa kepentingan misalnya ekonomi, politik, ideologi, dan sebagainya yang bisa menjadi roh bagi sebuah berita. Hal tersebut berdampak pada pembuatan berita tidak sekedar dalam hal bagaimana realitas tersebut dikonstruksi tetapi juga kepentingan apa saja yang membungkus berita tersebut.

Di antara ketiga tuntutan tersebut, media massa sering terlibat dalam tarik menarik antara tuntutan idealisme dan pragmatisme. Banyak faktor yang mempengaruhi konstruksi realitas media baik eksternal misalnya kondisi politik di waktu dan tempat media itu berada, maupun faktor internal seperti kepentingan-kepentingan yang bisa tumpang tindih pada tingkat perorangan atau kelompok dalam sebuah organisasi media. Kepentingan-kepentingan itu antara lain bisnis, politik, idelogi, teknis, masalah agama, kedaerahan, aliran, dan kepercayaan maupun struktur media itu sendiri. Dari faktor internal, sosok jurnalis paling disorot karena sebagai manusia setiap jurnalis memiliki sikap, nilai, kepercayaan, dan orientasi tertentu terhadap politik, agama, ideologi, dan aliran yang berbeda-beda satu sama lainnya. Faktor lain yang ikut mempengaruhi wartawan dalam mengkonstruksi suatu realitas adalah latar belakang pendidikan, jenis kelamin, dan etnis. Semua komponen tersebut berpengaruh terhadap isi media (media content) yang merupakan hasil kerja si jurnalis.

Media massa sebagai institusi sosial juga bersinggungan dengan lembaga-lembaga lain dalam bentuk relasi ekonomi, politik, dan sosial. Semua aspek itu pula ikut mempengaruhi media dalam mengangkat sebuah realitas. Media mengalami dilema, apakah harus mengabdi pada sebuah kepentingan tertentu atau menyatakan diri sebagai kelompok yang bebas dalam menjalankan profesi? Media berada di antara dua pilihan, menjalankan misi tertentu atau memuaskan diri sebagai profesional. (Sudibyo, 2001:63-69)

Dalam hal ini yang menjadi tolok ukur untuk menilai kinerja sebuah indsutri media massa adalah dengan melihat isi media itu sendiri. Salah satu isi media yang paling dominan tidak lain adalah berita-berita yang dibuat dan disajikannya.

Catatan

Bacaan terhadap media pers dapat dilakukan mulai dengan melihat dimensi makna yang terkandung dalam suatu teks, sehingga informasi jurnalisme dipandang sebagai suatu wacana yang menawarkan suatu makna. Baru kemudian memasuki teks secara teknis untuk melihat bagaimana fakta diolah dan direkonstruksikan dalam format informasi jurnalisme.

[1] Ada istilah yang mengatakan “give the public what it wants” (Bond, 1961). Pada dasarnya standar kelayakan sebuah informasi dapat dinilai dari bagaimana publik merespon dan memberikan feedback dari informasi tersebut. Sementara pada sisi lain ada aspek ekonomis yang cukup menjanjikan bagi pengelola industri media saat konflik berlangsung.

[2] Melihat kedua definisi mengenai berita tersebut, dapat diketahui bahwa sebuah berita mencakup beberapa unsur penting yaitu, fakta, akurat, ide, tepat waktu, menarik, opini, kepentingan pembaca, dan atau hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian. Maka dapat disimpulkan bahwa, berita adalah laporan tentang peristiwa, kejadian, isu, dan atau pendapat yang memiliki nilai penting, menarik bagi sebagian besar khalayak, masih baru/aktual, dan dipublikasikan secara meluas melalui media massa periodik.

[3] Media menunjukkan bukan hanya apa yang dapat dan harus dipikirkan namun juga bagaimana masyarakat harus berpikir tentang realitas (Leksono, 1998 dalam Birowo, 2004:175-176).



Comments are closed.