Imperialisme Budaya di Indonesia

Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi kini menjadi satu kata yang nyaring terdengar di seluruh dunia pada abad 21 ini. Pro–kontra pun mewarnai perjalanan globalisasi sebagai sebuah fenomena. Perubahan yang terjadi secara menyeluruh, dirasakan secara kolektif, dan mempengaruhi banyak orang (lintas wilayah-lintas negara) yang mempengaruhi gaya hidup dan lingkungan kita. Dunia memang berubah dan globalisasi adalah dunia yang terhubung (connected world) seolah tanpa batas; atau meminjam istilahnya McLuhan sebagai global village (Fakih, 2006; McLuhan, 1994).[1]

Globalisasi pada hakikatnya ternyata telah membawa nuansa budaya dan nilai yang mempengaruhi selera dan gaya hidup masyarakat. Melalui media yang semakin terbuka dan terjangkau, masyarakat menerima berbagai informasi tentang peradaban baru yang datang dari seluruh penjuru dunia. Padahal, kita menyadari belum semua warga negara mampu menilai sampai dimana kita sebagai bangsa berada. Begitulah, misalnya, banjir informasi dan budaya baru yang dibawa media tak jarang teramat asing dari sikap hidup dan norma yang berlaku.

 

Peran Media Massa

Sebelum masuk mengenai pembahasan globalisasi media, akan coba kita tilik bersama mengenai peran media massa yang mengafirmasi kecenderungan akan adanya kondisi global tersebut. Sebagaimana diketahui, peran media massa dalam kehidupan sosial, terutama dalam masyarakat modern tidak ada yang menyangkal, menurut McQuail dalam bukunya Mass Communication Theories (2000: 66), ada enam perspektif dalam hal melihat peran media. Pertama, melihat media massa sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.

Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih issue, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian .Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.

Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik, lalu keenam, media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif.[2]

Gambaran tentang realitas yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula terhadap objek sosial itu. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian media massa.

 

Globalisasi Media: Praktik Imperialisme Budaya

Menilik dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran khalayaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada masa akan datang harus dipikirkan lagi. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang tak terelakan lagi. Globalisasi media massa merupakan proses yang secara nature terjadi, sebagaimana jatuhnya sinar matahari, sebagaimana jatuhnya hujan atau meteor. Globalisasi membuat perbedaan yang ada antarnegara dalam dimensi ruang, waktu dan kebudayaan semakin berkurang. Jika, pada era 1970-an sampai akhir abad ke-20 kita lekat dengan istilah amerikanisasi maka memasuki abad ke-21 sampai sekarang istilah tersebut digantikan dengan globalisasi.

Betapa besarnya pengaruh dari globalisasi ini setidaknya dapat dilihat dengan adanya kecenderungan misalnya pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO). Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain. Dan tak dapat dipungkiri lagi globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat.

Sebenarnya globalisasi telah terjadi sejak dulu kala. Ketika agama hindu, budha atau islam masuk ke nusantara, proses itu bisa dimaknai sebagai globalisasi. Pasalnya, saat itu sekat-sekat yang menseklusi wilayah dan kebudayaan nusantara terbuka dan pada akhirnya bercampur dengan nilai-nilai yang ada pada agama-agama tersebut. Namun, pada konteks globalisasi dalam dunia komunikasi, globalisasi tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi. Dengan kata lain, pesatnya pertumbuhan alat komunikasi membuat globalisasi semakin pesat pula (Briggs dan Burke, 2006).

Hal serupa juga diungkapkan Pawito (2010: 12) bahwa memasuki dekade 1980-an media massa mengalami transformasi hebat dengan penemuan-penemuan baru dan penyempurnaan-penyempurnaan di bidang teknologi informasi-komunikasi termasuk misalnya teknik-teknik digital (di bidang televisi, radio dan alat cetak), integrasi antara komputer dan satelit kemudian diikuti dengan penggunaan internet secara luas dan juga telepon seluler. Perkembangan dalam dunia media massa ini ternyata memfasilitasi proses-proses globalisasi sebagaimana yang telah dikemukakan.

Dengan internet atau telepon genggam yang memiliki fasilitas internet, misalnya, akses untuk informasi (nyaris mengenai apa saja) dan hiburan juga nyaris bentuk dan genre apa saja) dari dunia luar begitu mudah diperoleh. Pada saat yang sama sajian media massa lain seperti televisi, radio, suratkabar, majalah, buku-buku domestik, setidaknya untuk banyak hal, lebih bersifat copy-an dari produk budaya global. Karena berkembangnya kecenderuangan demikian maka dapat dikatakan bahwa corak budaya di banyak aspek yang berkembang di masyarakat, termasuk masyarakat Indonesia, notabenenya adalah hasil penetrasi globalisasi yang diusung atau difasilitasi oleh media massa.

Marshall McLuhan pada tahun 1962 dalam tulisannya The Guttenberg Galaxy: The Making of Typographic Man yang menjadi dasar munculnya technological determination theory. Ide dasar teori ini adalah bahwa perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi (yang kebanyakan dipengaruhi media massa) akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berpikir, berperilaku dalam masyarakat. Dan teknologi tersebut akhirnya mengarahkan manusia untuk bergerak dari satu abad teknologi ke abad teknologi lain. McLuhan menegaskan, ”Kita membentuk peralatan untuk berkomunikasi dan peralatan untuk berkomunikasi yang kita gunakan itu akhirnya membentuk atau mempengaruhi kehidupan kita sendiri” (Nurudin, 2007: 184-185). Setidaknya gambaran dari McLuhan juga telah mengamplifikasi hal-hal mengenai pengaruh perkembangan media massa tersebut.

Di satu sisi memang globalisasi memberikan keuntungan dalam arti konteks interaksi global yang memudahkan segenap orang menjalani kehidupannya dalam ranah global village. Namun perlu diingat bahwa suatu perkembangan zaman layaknya pisau bermata dua.

Dedy N. Hidayat mengingatkan bahwa melalui globalisasi akan muncul suatu konsensus global yang memungkinkan masuknya produk-produk modernitas Barat dimana juga bisa merupakan suatu proyek kekuasaan, dominasi, dan manipulasi lokal. Kesemuanya itu melibatkan proyek-proyek kekuasaan yang jejak historisnya terbentang dari era penaklukan dunia ketiga (termasuk Indonesia), penyebaran imperialisme, dan dominasi kapitalisme Barat, hingga upaya-upaya kontemporer ke arah homogenisasi dan pencapaian konsensus global terhadap berbagai ide dan etika produk modernitas Barat (Hidayat, 1992).[3]

Kembali pada konteks media massa sebagai saluran utama dari proses-proses globalisasi dimana dalam konteks global, notabene dikontrol oleh perusahaan-perusahaan raksasa yang berbasis di negara maju terutama Amerika dan Inggris. Terdapat setidaknya lima perusahaan raksasa yang menguasai media global yakni News Corp., Disney/CapCities, Time Warner, Viacom dan TCI. Perusahaan-perusahaan ini memiliki anak dan cucu perusahaan sehingga benar-benar menggurita. News Corp., misalnya, memiliki berbagai suratkabar, stasiun televisi dan sistem satelit penyiaran di seluruh dunia termasuk Star TV dan Sky TV; dan Time Warner’s adalah pemilik Turner Broadcasting yang tak lain adalah pendiri dan pemilik CNN. Kenyataan demikian sudah agak beberapa lama menimbulkan keprihatinan luas dan juga wacana mengenai imperialisme budaya (cultural imperialism), termasuk kajian mengenai imperialisme budaya sebagai imperialisme media (cultural imperialism as media imperialism) (lebih jelas, baca, misalnya, Tomlinsonm 2002: 223-226).[4]

Semakin banyak negara yang berlomba-lomba untuk memasarkan program televisinya. Televisi Indonesia menjadi semakin lebih berwarna dengan kehadiran tayangan dari negara lain. Sebut saja serial TV dari Jepang dan Korea, Telenovela dari Amerika Latin dan film dari India. Apakah hal ini negatif atau poisitif? Seperti sekeping mata uang, semua hal ada positif dan negatifnya. Sisi positifnya, kita bisa mengenal kebudayaan lain dan membuat wawasan kita bertambah, sedangkan sisi negatifnya kebudayaan lokal kita semakin luntur akibat tergembur kebudayaan asing. Inilah praktik, imperialisme budaya tersebut ditambah hal itu, bisa saja terjadi karena kita kurang menghargai budaya kita sendiri.[5]

Kehadiran internet dan televisi yang menjembatani negara-negara di seluruh belahan bumi pun membuat penyebaran budaya semakin cepat, perembesan satu budaya yang berasal dari negara-negara yang dianggap superior masuk ke negara-negara yang inferior tanpa disadari. Dalam televisi, orang-orang yang berada di balik layar, seperti para pekerja rumah produksi, produser, sutradara, hingga ke pemilik stasiun televisi biasanya orang-orang yang hanya mengejar keuntungan finansial untuk kocek mereka sendiri, sehingga mereka pun menayangkan program-program yang sering berkiblat ke negara-negara yang dianggap superior, untuk menarik lebih banyak pemirsa, yang berarti akan menaikkan rating, dus bermakna semakin banyak iklan yang masuk, tanpa mempedulikan bahwa hal ini berarti mereka telah melakukan suatu tindakan nyata untuk menghancurkan budaya bangsa sendiri secara perlahan-lahan.

Melihat semua ini, haruskah kita salahkan generasi muda kita yang mungkin akan lebih bangga jika mereka disebut sebagai generasi MTV? Haruskah kita salahkan mereka yang tidak lagi mengenal bahasa daerah masing-masing, wayang, tarian tradisional, dan lain-lain? Haruskah kita salahkan mereka yang lebih suka menghabiskan waktu luangnya window shopping di mall-mall, sembari makan-makan di fast food restaurant yang merupakan franchise produk luar negeri? Bukankah mereka sebenarnya merupakan korban keegoisan para pemilik modal, dan generasi yang lebih tua dari mereka yang menjejalkan budaya asing lewat media?

Memang pada masa sekarang ini, globalisasi lebih terasa daripada amerikanisasi, karena aliran informasi dan media tidak lagi dimonopoli Amerika Serikat. Saat ini, semua negara di dunia dapat berpartisipasi dalam memasarkan informasi. Walaupun pada kenyataannya Amerika Serikat dan negara barat lainnya tetap mendominasi aliran informasi. Globalisasi kepemilikan media yang muncul jelas memperlihatkan praktik imperialisme budaya yang tinggi pula (Morley, 2006; Straubhaar, et. al, 2009).

Tak terbantahkan kini budaya di Indonesia juga telah terkontaminasi budaya global dari Amerika. Walhasil ada ketegangan-ketegangan karena terjadinya benturan antara budaya global yang dianggap modern, dengan budaya lokal yang mewakili semangat nasionalisme atau bahk an kedaerahan, tapi juga yang berkesan tradisional. Yang perlu dicatat adalah bahwa kekhawatiran atau penolakan globalisasi yang juga sering disebut dengan Amerikanisasi ini muncul tidak hanya di negara berkembang ataupun negara dunia ketiga.

Dengan munculnya wacana cultural imperialism sebagaimana diungkapkan oleh Tomlinson (2002) sudah selayaknya kewaspadaan terhadap imperialisme budaya ini semakin meningkat. Apalagi thesis pokok dari kajian ini antara lain mengatakan bahwa semakin kuatnya penetrasi dan hegemoni budaya masyarakat negara maju (Barat) terhadap budaya masyarakat yang sedang berkembang atau dunia ketiga maka hal ini notabenenya adalah merupakan keberhasilan kapitalisme global. Artinya proses-proses globalisasi pada kenyataannya telah memperkokoh hegemoni kalangan kapitalis yang kemudian rupanya mengusung pola-pola ekonomi neo-liberalisme yang berujung pada subordinasi, eksploitasi, kemiskinan dan alienasi pada masyarakat dunia berkembang.

 

Catatan

Sebagaimana lontaran Gramsci yang terkenal dengan teori hegemoninya mengatakan bahwa untuk melepaskan diri dari cengkeraman budaya asing, diperlukan partisipasi keikutsertaan para intelektual organik kaum inteletual yang harus menyadarkan masyarakat, terutama generasi muda, bukan kaum inteletual tradisional yang justru lebih melegitimasikan budaya-budaya asing tersebut (Gramsci dalam Bocock, 2007: 39-40).

Namun tentu saja hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, jika kaum intelektual organik tersebut lemah modal. Bagaimana mereka akan mampu membuat produk saingan untuk menggeser tayangan-tayangan impor dari luar, agar lebih menarik para generasi muda jika mereka tidak memiliki modal yang cukup kuat? Menurut pengamatan saya selama ini, kaum intelektual organik ini jumlahnya lebih sedikit, sehingga menyerahkan beban untuk menjaga generasi penerus dari pengaruh negatif globalisasi kepada mereka tentu sangat tidak bijaksana.

Setidaknya jalan alternatif yakni perlu untuk segera disosialisasikan dan direalisasikan gerakan media literacy (melek media) untuk dapat menangkal pengaruh buruk globalisasi media. James Potter mendefinisikan media literacy sebagai: ”A perspective that we actively use when explosing ourselves to the media in order to interpret the meaning of the messages when we counter. We build our perspective from knowledge structure. To build our knowledge structures, we need tools and raw material. The tools are our skills. The raw material is information from the media and the real world. Active use means we are aware of the messages and are consciuously with them” (Potter, 2001).

Hal ini penting karena akan mendorong individu untuk secara aktif menafsirkan pesan dan menguatkan individu dalam menghadapi atau mengakses media. Positif atau negatif dampak dari globalisasi salah satunya ditentukan oleh sikap kita dalam menggunakan media tadi. Oleh karena itu, dibutuhkan yang namanya melek media, agar kita dapat melihat mana yang baik dan mana yang buruk dari isi yang dibawa media sehingga kita tidak terseret dalam arus globalisasi.

 

 

[1] Lihat pula Ferguson, 2002:239, Salah satu pemaknaan terhadap globalisasi dikatakan bahwa globalisasi merupakan “both a journey and destination: it signifies abd historical process of becoming, as well as an economic and cultural result; that is arrival at the globalized state”

[2] Dari sini dapat dilihat bahwa peran media dalam kehidupan sosial bukan sekedar sarana diversion, pelepas ketegangan atau hiburan, tetapi isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi realitas subjektif pelaku interaksi sosial (DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989; Curran et. al, 1979).

[3] Dikatakan pula bahwa salah satu wujud imperialisme adalah dalam konteks budaya. Dengan globalisasi ada semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda. Ditambah dengan diilhami berkembangnya teknologi komunikasi maka tak terelakan semakin sepat pula munculnya suatu perkembangan globalisasi kebudayaan.

[4] Mengenai imperialisme budaya (cultural imperialism) ini bukanlah isapan jempol belaka. Sebelum abad ke-21, jarang sekali televisi Indonesia yang menayangkan program-program dari negara-negara lain selain dari AS. Tapi, saat ini di layar kaca, dapat kita temukan banyak sekali tayangan non-Amerika. Sebut saja dari India, Jepang, Korea, Cina, Taiwan, Meksiko dan lain-lain. Dunia menjadi lebih terintegrasi berdasarkan pasar dalam lingkaran pasar kapitalisme.

[5] Dalam konteks dunia ketiga, sangatlah dipahami jika sampai saat ini inferioritas ini masih mendominasi sehingga apapun yang berasal dari Barat akan selalu dianggap lebih indah, lebih menarik, lebih modern dibandingkan yang berasal dari Timur.

Featured image: http://thesheaf.com/wp-content/uploads/2014/01/cultural-appropriation-rectangle-1100×722.jpg



Comments are closed.